Jika Harus Jujur, Adilkah ini?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Bahwa kebaikan itu sederhana dan berani. Sehingga, seseorang disebut baik karena dia meyakini yang baik dan hidup dalam kebaikan yang diyakininya. Mohon Anda ingat, hanya kebaikan yang membaikkan.

Dan kejujuran adalah citra terbaik. Karena sesungguhnya, hanya pribadi yang jujur – yang betul-betul bisa hidup bebas. Sebaliknya, mengharapkan keuntungan yang tidak jujur , adalah awal dari kerugian. Maka, pilihlah kejujuran. Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.

Apabila Anda mempunyai perasaan bahwa dunia tidak adil, hal ini hanya dirasakan oleh mereka yang merasa bahwa dia memiliki sebuah kualitas yang lebih baik daripada kualitas orang lain; tetapi orang lain itu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Ingatlah bahwa kita masih bisa bernegosiasi dengannya.

Membaca tulisan Mario Teguh tersebut, penulis ingin sedikit sharing  tentang nilai kejujuran dan keadilan di sebuah madrasah berdasarkan pengalaman saya. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai (a) tidak berat sebelah/tidak memihak, (b) berpihak kepada kebenaran, dan (c) sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Jadi dibalik kata adil terkandung arti memperlakukan secara sama, tidak berpihak kecuali atas dasar prinsip kebenaran. Namun, pengertian sama tidak harus persis sama, tetapi bisa beda bentuk asal substansinya sama dan yakinlah bahwasanya keadilan itu mendatangkan harmoni (tidak jomplang) karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya.

Teringat sedikit cerita ringan Bapak/ Ibu guru ketika saya SD tentang keadilan di sebuah keluarga. Pembagian tugas dalam keluarga harus didasarkan prinsip keadilan, ayah mencuci mobil sedangkan ibu memasak, adik menyapu sedangkan kakak mencuci iring. Dalam contoh tersebut telah diterapkan prinsip keadilan secara sederhana.

Untuk peneraan keadilan yang lebih luas atau umum, alam tata surya misalnya, diciptakan Allah dengan mengetrapkan prinsip keseimbangan, dengan keseimbangan itu maka alam berjalan harmoni, siang, malam, kemarau, musim hujan, musim panas, musim dingin, gerhana, yang dengan itu manusia bisa menikmati keteraturan keseimbangan itu dengan menghitung jam, bulan, tahun, cuaca, arah angin dan sebagainya. Dengan keseimbangan alam ini, manusia kemudian menyadari tentang ozon, efek rumah kaca dan sebagainya.

Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya. Semua makhluk hidup sampai yang sekecil-kecilnya disediakan rizkinya oleh sistem tersebut. Sistem keadilan dan harmoni itu membuat semua makhluk memiliki makna atas kehadirannya. Kotoran manusia yang oleh manusia dipandang najis, menjijikkan dan membahayakan kesehatannya, ternyata sangat bermakna bagi ikan lele di kolam, yang dengan menu najis itu ikan lele menjadi gemuk. Kehadiran ikan lele yang gemuk selanjutnya menjadi sangat bermakna bagi manusia, karena dibutuhkan gizinya.

Lalu bagaimana jika prinsi keadilan ini diterapkan di sebuah madrasah? Dalam hal pemberian nilai kepada siswa, misalnya. Sehingga guru dapat memberi penilaian dan berpendapat apa adanya, mempertahankan idealisme bahwa mendidik bukan bertujuan ‘menghasilkan’ siswa bernilai tinggi, melainkan membawa mereka untuk mampu belajar dengan bernalar lebih baik.

Adapun permintaan untuk menaikkan nilai siswa agar memenuhi syarat minimal ketuntasan, dengan alasan jika tidak dinaikkan maka siswa berpeluang tidak naik kelas, sebaiknya tidak dipenuhi. Beberapa siswa  memperoleh nilai kurang memuaskan untuk beberapa mata pelajaran pokok, namun Sidang Kenaikan Kelas setuju menaikkan nilai sehingga ‘nasib’ siswa tergantung kepada guru.

Alangkah baiknya jika hal ini tidak terjadi dilingkungan sekolah dimana sekolah adalah salah satu lingkungan terdekat siswa (selain keluarga dan masyarakat) sebagai tempat pembentukan karakter kejujuran. Bukankah mereka (siswa) telah mendapat kesempatan perbaikan nilai, tapi tidak dengan cara menaikkan nilai. Untuk catatan, siswa dengan nilai di bawah KKM telah mendapat kesempatan ujian remedial 2-3 kali untuk mencapai ‘nilai akhir yang belum memuaskan’ tersebut. Jika hal ini terjadi, agar guru tidak diangga gagal dalam mengajar sehingga terjadi manipulasi nilai (mengatrol nilai) maka secara tidak sadar seorang guru telah menjadi contoh buruk bagi peserta didik, dalam hal kejujuran.

Lesson learned yang saya pelajari adalah, “Ini terjadi. Things happened. Suck it up.” Terlalu sulit untuk dapat mengubah sistem dan tidak banyak gunanya untuk berdiri sendirian tanpa dukungan kolega. Sedangkan dalam hal teknis guru harus data “meraba” tingkat kesulitan evaluasi yang diberikan kepada siswa dengan melakukan penilaian apa adanya dan tidak mengatrol nilai. Perbaikan pengajaran dan evaluasi juga perlu ditingkatkan agar kemampuan analisa siswa dapat lebih baik, sehingga soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dapat diatasi dengan lebih baik, dus perbaikan rata-rata nilai.

Allah menciptakan dan mengelola alam ini dengan keadilan sebagai sunnatullah, maka Allahpun mengetrapkan prinsip keadilan ini pada kehidupan manusia. Hukum sunnatullah itu bersifat pasti dan tidak bisa diganti, oleh karena itu siapapun yang berlaku adil maka dialah yang berhak menerima buahnya berupa kehidupan yang harmoni, sebaliknya siapapun yang menyimpang dari prinsip keadilan (zalim) ia akan memetik buahnya berupa ketidak harmonisan.

Sunnatullah berlaku pada alam, pada tubuh manusia, pada kehidupan individu manusia, pada kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu ada perintah untuk berlaku adil meski kepada diri sendiri, berlaku adil kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya dan ada juga keharusan menegakkan keadilan sosial.

Jujur lebih dulu daripada apapun yang lain. Membuka lebih banyak kebaikan. Membuat anak lebih sabar dalam proses, mau menunggu dan bersedia bekerja keras karena yakin nilai yang dijunjungnya tinggi dan berharga.

Harapan penulis, semoga pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai saja. Ketuntasan minimal seharusnya tidak sekadar angka minimal 75 lalu semua disesuaikan supaya murid bisa mencapai rata-rata nilai rapor minimal 75. Penulis mengaharapkan kejujuran dan proses bernilai lebih daripada angka dan nilai sikap di rapor namun tanpa roh dalam keseharian.

Bukankah lebih “enjoy” jika anak-anak belajar karena penasaran, karena ingin tahu, dan karena ingin mengerti. Jika nilai benar-benar dapat dilihat sebagai ‘bonus’ atas proses pembelajaran, kemungkinan besar anak-anak rindu pergi ke sekolah tak hanya karena teman-temannya, tapi juga guru dan aktivitas yang dilakukan di sekolah.

Semoga lebih banyak anak yang ingin menjadi guru. Guru adalah profesi bergengsi, tak kalah dari dokter dan insinyur (harapan saya). Dan semoga ketika orang menyebut tentang pahlawan tanpa tanda jasa, tak lagi dikaitkan dengan minimnya kesejahteraan guru, tapi benar-benar sekadar ‘guru tak diberikan tanda jasa seperti bintang jasa militer’.

Saya ingin guru dapat meninggalkan jejak lebih dalam pada hidup anak didiknya daripada nilai yang diberikannya. Namun kenangan akan guru dapat ikut andil dalam mengingatkan anak didiknya pada kebaikan kelak ketika mereka punya kekuasaan, menjadi pengambil keputusan, maupun menjalani profesi apa saja. Aminn.

Wajak, 19 Juni 2013 (3:43)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s