Taare Zameen Par: Film “Cerdas” untuk Guru yang “Cerdas”

Guru adalah pendidik yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya. Namun, guru yang saati ini saya perhatikan lebih mengarah kepada sebuah pekerjaan atau kewajiban dimana ketika seseorang telah menunaikan kewajiban “mengajar” maka gugurlah kewajiban tersebut. Bagaimana tidak? Guru hanya masuk ke dalam kelas, menyampaikan materi, salam, trus pergi. Hal ini saya amati pada beberapa orang guru lho!! Jadi tidak bisa disamaratakan. Ada juga sih guru yang benar-benar menjadi seorang pendidik dan bertanggung jawab kepada muridnya.

Pada saat saya masih mengajar di salah satu SD Swasta, ada beberapa siswa yang berkelakuan luar biasa. Dia tidak bisa menulis dengan rapi, tidak bisa membaca dengan lancar, bahkan sampai kelas 4 SD. Tapi dia bisa menghitung dan pandai latihan karate. Seperti film berikut….

Film ini dimulai  menceritakan tokoh utamanya melalui seorang anak yang bernama Ishaan Awasthi. Ia seorang anak berumur sekitar 8 atau 9 tahun dan sedang menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Seperti anak-anak seusianya, Ishaan sangat suka bermain. Namun tidak seperti anak-anak seusianya yang lain, Ishaan tergolong anak yang “luar biasa” dalam hal belajar, ia dianggap bodoh dan nakal. Tidak heran karena ia tidak pernah mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), nilai ulangannya selalu di bawah rata-rata, ia juga kesulitan untuk membaca. Namun ia sangat pandai dan suka melukis. Hal itu tidak terlalu diperhatikan oleh teman-temannya dan juga guru-gurunya. Hanya Ibu dan kakaknya yang bernama Yohan yang memperhatikannya. Ishaan sangat berbeda dengan kakaknya, Yohan Awasthi. Jika Ishaan dinilai nakal dan bodoh kakaknya kebalikannya. Yohan sangat cerdas di semua mata pelajaran termasuk olahraga yaitu tenis.

Sebenarnya ibunya sering membantunya belajar. Dengan kesabaraannya ia membantu Ishaan mengulang pelajarannya, namun pada taare-zameen-parakhirnya ibunya lelah karena lagi-lagi Ishaan salah dalam menulis. Ia selalu saja salah dalam menulis kata-kata. Misalnya menulis kata “table” dengan dengan “tabel” dan masih banyak kata-kata lain yang susah dimengerti. Sayangnya ayahnya kurang memperhatikan, ia hanya sibuk bekerja dan sering memarahi Ishaan yang dianggapnya nakal. Belum lagi guru-guru di sekolahnya, hampir semuanya selalu memarahi dan menghukumnya.

Hal inilah yang membuat ia membolos. Awalnya ia berangkat ke sekolah dan mengikuti pelajaraan. Namun pada pelajaran pertama ia memperoleh hukuman sehingga harus berada di luar. Ia dihukum karena tidak mampu membaca apa yang diminta guru. Selain itu ia juga kesulitan untuk mencerna perintah dari guru. Misalnya instruksi untuk membuka halaman 38, bab 4 paragraf 3. Sampai ia harus dibantu oleh temannya.

Yang membuatnya memutuskan untuk membolos adalah ia belum mengerjakan PR selain itu ia juga tidak membawa kertas nilai ujian yang seharusnya ditandatangani orang tuanya tetapi kertas tersebut ia gunakan untuk bermain-main. Akhirnya ia membolos dengan berjalan-jalan keluar dari sekolah. Ia pergi ke pasar, ke tempat-tempat umum lainnya. yang mana hal itu menginspirasinya dalam melukis. Ia menikmati jalan-jalan yang ia lakukan, karena takut ketahuan orang tuanya, ia memaksa kakaknya untuk membuatkan surat ijin. Awalnya kakaknya tidak bersedia tetapi akhirnya bersedia.

Pasa saat mengerjakan ulangan Matematika, seperti biasa ia kesulitan dalam mengerjakannya. Dari banyak soal yang diberikan ia hanya mengerjakan satu soal saja. Itu pun salah. Ketika ia mengerjakan soal tersebut ia jusru membayangkannya dalam bentuk animasi sebuah game, sehingga ketika ia mengerjakan soal perkalian 3 x 9 = … Ia menjawabnya menjadi 3 x 9 = 3.

Sayangnya, ia kurang teliti. Surat ijin palsu itu ditemukan ayahnya. Terang saja ia dimarahi habis-habisan, selain itu ayah ibunya juga pergi ke sekolahnya. Di sekolah, semua guru dan juga Kepala Sekolah semakin memojokkan orang tuanya. Mereka berpeendapat bahwa Ishaan mungkin perlu disekolahkan di sekolah lain. Dan jika ia tidak berubah pada ujian selanjutnya ia dipastikan tidak lulus.

Hal tersebut membuat ayahnya marah, ia tidak terima bahwa anaknya dianggap tidak normal. Ia kemudian memindahkan Ishaan ke asrama. Dengan memindahkan Ishaan ke asrama ia berharap Ishaan tidak malas belajar, selama ini ia menganggap bahwa Ishaan itu nakal dan malas belajar. Sebenarnya ibunya tidak terlalu menyetujuinya namun ia tidak terlalu bisa berbuat banyak. Ishaan pun merasa terpukul, ia merasa dibuang dengan dipindahkan ke asrama.

Di asrama pun tidak ada peruubahan yang berarti. Justru keadaan Ishaan yang semakin terpuruk. Selain ia tidak mau sekolah di asrama, guru-guru di asrama tersebut lebih galak dibandingkan sekolah sebelumnya. Ishaan masih sering menerima hukuman keluar kelas, nilainya masih di bawah rata-rata. Bahkan ia juga mengalami hukuman dipukul menggunakan penggaris oleh guru mata pelajaan Seni yang bernama Holkar.

Ishaan sebenarnya telah berusaha, tetapi semakin ia berusaha semakin bingung. Ia merasa tulisan yang ia baca menari-nari sehingga ia tidak bisa membaca. Tekanan dari guru dan ejekan dari teman-temannya semakin menekannya. Bahkan membuatnya tidak mau menggambar lagi.

Kemudian datanglah seorang guru seni yang baru, menggantikan guru seni sebelumnya yaitu Holkar yang pindah mengajar ke sekolah lainnya. Guru pengganti tersebut bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Berbeda dengan guru sebelumnya yang terkenal galak dan suka memukul. Nikumbh seorang guru yang menyenangkan. Ia mengajak murid-muridnya belajar sambil bernyanyi, belajar ke luar kelas dan menggambar apapun yang ingin digambar murid-muridnya.

Nikumbh lah yang kemudian menemukan ada sesuatu yang berbeda dengan Ishaan. Ia mencari tahu melalui teman sekelas Ishaan yang paling dekat yaitu Rajan Damodaran. Melalui Rajan itulah Nikumbh mengetahui bahwa Ishaan baru masuk ke asrama tersebut di tengah semester.. Nikumbh kemudian berusaha pergi ke rumah orang tua Ishaan.

Nikumbh pulalah yang kemudian mampu memberikan penjelasan kepada orang tua Ishaan, bahwa anak mereka mengalami dyslexia. Dimana hal tersebut membuat Ishaan mengalami kesulitan membaca dan menulis. Selain itu dyslexia tersebut juga menjawab mengapa selama ini Ishaan selalu kesulitan mengikuti instruksi atau petunjuk dari guru, orang tua maupun teman-temannya. Kesulitan motorik akibat dyslexia tersebut juga membuat Ishaan kesulitan mengancingkan bajunya dengan benar, melempar bola dengan tepat dan selalu lambat dalam mengerjakan sesuatu.

Setelah menemui orang tua Ishaan, Nikumbh kemudian memohon kepada Kepala Sekolah (asrama) agar Ishan diberikan kemudahan dan tidak dikeluarkan. Dimana ia nantinya yang akan membantu Ishaan agar dapat membaca dan juga menulis.

Dimulailah upaya Nikumbh untuk membantu Ishaan belajar membaca dan menulis. Tetapi sebelumnya ia menjelaskan di depan kelas mengenai kesulitan membaca dan menulis yang dialami tokoh-tokoh dunia. Seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Pablo Picasso, Walt Disney bahkan Abhishek Bachan. Di tempat terpisah ia juga menjelaskan kepada Ishaan bahwa dulunya ia juga mengalami keslitan membaca dan juga menulis. Hal tersebut sedikit menambah kepercayaan diri Ishhaan.

Lalu dimulailah upaya Nikumbh membantu Ishaan. Berbeda dengan guru lain, ia membantu Ishaan belajar sambil bermain. Dengan bermain pasir, melukis, menggunakan lilin yang bisa dibentuk, diselingi game komputer, melalui rekaman. Perlahan namun pasti upaya Nikumbh berhasil. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan diri Ishaan dan memperlihatkan kelebihan Ishaan dalam melukis, Nikumbh kemudian mengadakan lomba melukis bagi guru dan murid di asrama tersebut.

Melihat lukisan Nikumb, Ishaan menangis terharu 110804083243lzk2
Ishaan keluar sebagai pemenang. Hasil lukisannya dan juga lukisan Nikumbh dipakai sebagai sampul buku tahunan sekolah tersebut. Selain iu di akhir sekolah, nilai-nilai Ishaan pun tidak lagi di bawah rata-rata. Ia sudah mampu mengimbangi kemampuan teman-temannya.

painting01

Berdasarkan cerita tersebut, guru yang cerdas akan bertindak seperti Nikumb yang merasa bertanggung jawab terhadap anak didiknya,. Bukannya lari dari tanggung jawab dengan menyuruh peserta didik keluar ketika tidak mengerjakan tugas :)) Semoga kita bisa menjadi guru yang cerdas. Amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s