Berat Badanku Turun 10 Kilo dengan Food Combining

Berat badanku turun 10 kilo dalam 1 bulan – Hai hai… Akhirnya tergugah juga hatiku untuk membuka kembali blog yang telah lama kutinggalkan hijrah ke bundadzakiyyah.com. Eman-eman, karena blog ini adalah tempat pertamaku belajar nulis, tak tega kuhapus. Akhirnya jadilah sarang laba-laba. Entah mengapa tiba-tiba ingin membuka kembali lembaran baru di blog ini. Setelah beberapa kali semedi (hihihi, cari wangsit) akhirnya kuputuskan untuk menjadikan blog ini sebagai diary perjalanku menuju hidup sehat. Makanya kunamakan “Healthy Mama”.

My first experiment #greenjuice #bokchoy+apel+jeniper #tomatoJuice #breakfast #foodcombining #newhabbit #healthy

A post shared by Eni Rahayu (bundadzakiyyah) (@bundadzakiyyah) on

Berbeda dengan tulisanku di blogspot yang isinya gado-gado alias campur-campur gak jelas, blog HealthyMama akan saya khususkan tulisan tentang hidup sehat (menurut saya tentunya). Nah, tulisan pertama saya ini akan menceritakan pengalaman pertama  dalam menurunkan 10kilo BB dalam waktu 1 bulan secara alami.

Banyak yang nggak percaya, apa iya beneran turun 10kilo? No Pict, hoax. Hahaha. Nyesel juga sih nggak pede photo full body, jadinya pas cerita gini nggak ada bukti yang bisa ditunjukkan. Tapi terserah pembaca aja deh, mau percaya boleh, nggak percaya juga nggak papa. No problemo…

Pernah dengar FC atau food combining? Itu lho pola makan yang tidak mencampur makanan yang mengandung karbohidrat dengan makanan berprotein hewani. Selain itu pola makan food combining harus memenuhi prinsip-prinsip tertentu, diantaranya:

Minum jeruk nipis peras (jeniper) hangat

Jeniper in the morning #uploadkompakan #healthylife_tgl

A post shared by Eni Rahayu (bundadzakiyyah) (@bundadzakiyyah) on

Sarapan Buah

Nyabu dulu yuuuuuk… #foodcombining #healthyfood #melon #segar

A post shared by Eni Rahayu (bundadzakiyyah) (@bundadzakiyyah) on

No Karbohidrat + Protein Hewani

Maksi…pecel rawfood… colourfull… jamur goreng

A post shared by Eni Rahayu (bundadzakiyyah) (@bundadzakiyyah) on

Satu jenis protein perhari

Karbohidrat + sayur + protein hewani

Protein hewani saat makan siang

Perbanyak makan sayuran mentah (lalapan)

Maksi…. ayam plus lalapan… #foodcombining #healthyfood

A post shared by Eni Rahayu (bundadzakiyyah) (@bundadzakiyyah) on

Akupun berusaha memenuhi prinsip-prinsip yang diterapkan pada food combining. Awalnya memang sulit banget, tapi keinginan dari dalam diri yang sangat kuat, aku bisa menjalani FC dengan mudah. Meskipun sebenarnya tujuan utamaku adalah ingin menurunkan berat badan.

Selain membaca artikel-artikel tentang food combining, aku juga kepoin beberapa mastah FC di twitter, facebook, pokoknya aku niat banget deh. Hingga teman-teman di kantor pun pada heran dan menganggap diriku aneh. Food combining ku tetap jalan dan kuabaikan orang-orang yang menganggapku aneh. Tak mengapa yang penting bisa kurus, pikirku.

Food Combining tuh enak banget lho, bisa makan apa aja sepuasnya sampai kenyang. Tapi tetap harus sesuai prinsip ya. Nah kalau aku pengen makan karbo + protein nabati, aku makan pas cheating. Iya, jadi ada istilah cheating seminggu sekali. Kalau bisa sih cheatingnya juga tetap sarapan buah. Entar siangnya makan seperti biasa, boleh deh nasi+ayam bakar (namanya manusia pasti tergoda juga aroma ayam bakar). Wkwkwk

Jadi tiap hari aku bawa buah untuk sarapan, dan air putih 1 liter hingga makan siang tiba. Buah dan air putih kumakan perlahan hingga jam 12 siang. Aku juga bawa bekal, nasi dikit dan raw food. Menunya apa? Macam-macam dan gonta ganti tiap hari. Kecambah, selada air, kacang panjang, wortel, buncis, kubis, brokoli, dan masih banyak lagi yang saya mix untuk raw food. Jika sorenya lapar saya bikin jus sayur atau makan kacang rebus.

Selama satu bulan saya menerapkan pola makan food combining, dan kaget juga pas angka timbangan mengatakan bahwa berat badan saya berkurang 10kg. Langsung deh jingkrak jingkrak..#lebay

Itulah kisahku menurunkan berat badan 10kilo selama satu bulan dengan food combining.

Sumber:

http://www.widyantiyuliandari.com/2016/03/10/menu-food-combining/

 

Iklan

FASE-FASE KRITIS PEMBENTUKAN PERILAKU ANAK

12227166_931643000240135_7663707885081063563_n

Melongo juga pas kali pertama baca tulisan “Ayah Edi” yang ini. Ternyata anak juga memiliki fase kritis saat terbentuknya perilaku. Nah lho!! Kemana aja dulu pas kuliah materi psikologi perkembangan anak? Saya yang lupa, atau memang belum pernah dibahas ya? Ah, daripada menyesal yang tiada guna lebih baik kita baca dan pahami, berada di fase manakah anak kita ?

Kisah Ayah Edi:

Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan perilaku anaknya katanya sangat bermasalah.

Bayangkan, katanya “anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya”

Sambil menangis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya, “Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi di sekolah”.

“Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini, saya tidak tahu lagi harus bagaimana? rasanya saya sudah putus asa, setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya”

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalahan pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Para orang tua dan guru yang berbahagia,

Kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia,
Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak tersebut.

Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa perilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.

Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.

Setelah itu fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menunjukkan perilaku-perilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.

Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalnya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke perilaku-perilaku terlarang.

Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik perilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamtlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Jika Harus Jujur, Adilkah ini?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Bahwa kebaikan itu sederhana dan berani. Sehingga, seseorang disebut baik karena dia meyakini yang baik dan hidup dalam kebaikan yang diyakininya. Mohon Anda ingat, hanya kebaikan yang membaikkan.

Dan kejujuran adalah citra terbaik. Karena sesungguhnya, hanya pribadi yang jujur – yang betul-betul bisa hidup bebas. Sebaliknya, mengharapkan keuntungan yang tidak jujur , adalah awal dari kerugian. Maka, pilihlah kejujuran. Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.

Apabila Anda mempunyai perasaan bahwa dunia tidak adil, hal ini hanya dirasakan oleh mereka yang merasa bahwa dia memiliki sebuah kualitas yang lebih baik daripada kualitas orang lain; tetapi orang lain itu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Ingatlah bahwa kita masih bisa bernegosiasi dengannya.

Membaca tulisan Mario Teguh tersebut, penulis ingin sedikit sharing  tentang nilai kejujuran dan keadilan di sebuah madrasah berdasarkan pengalaman saya. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai (a) tidak berat sebelah/tidak memihak, (b) berpihak kepada kebenaran, dan (c) sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Jadi dibalik kata adil terkandung arti memperlakukan secara sama, tidak berpihak kecuali atas dasar prinsip kebenaran. Namun, pengertian sama tidak harus persis sama, tetapi bisa beda bentuk asal substansinya sama dan yakinlah bahwasanya keadilan itu mendatangkan harmoni (tidak jomplang) karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya.

Teringat sedikit cerita ringan Bapak/ Ibu guru ketika saya SD tentang keadilan di sebuah keluarga. Pembagian tugas dalam keluarga harus didasarkan prinsip keadilan, ayah mencuci mobil sedangkan ibu memasak, adik menyapu sedangkan kakak mencuci iring. Dalam contoh tersebut telah diterapkan prinsip keadilan secara sederhana.

Untuk peneraan keadilan yang lebih luas atau umum, alam tata surya misalnya, diciptakan Allah dengan mengetrapkan prinsip keseimbangan, dengan keseimbangan itu maka alam berjalan harmoni, siang, malam, kemarau, musim hujan, musim panas, musim dingin, gerhana, yang dengan itu manusia bisa menikmati keteraturan keseimbangan itu dengan menghitung jam, bulan, tahun, cuaca, arah angin dan sebagainya. Dengan keseimbangan alam ini, manusia kemudian menyadari tentang ozon, efek rumah kaca dan sebagainya.

Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya. Semua makhluk hidup sampai yang sekecil-kecilnya disediakan rizkinya oleh sistem tersebut. Sistem keadilan dan harmoni itu membuat semua makhluk memiliki makna atas kehadirannya. Kotoran manusia yang oleh manusia dipandang najis, menjijikkan dan membahayakan kesehatannya, ternyata sangat bermakna bagi ikan lele di kolam, yang dengan menu najis itu ikan lele menjadi gemuk. Kehadiran ikan lele yang gemuk selanjutnya menjadi sangat bermakna bagi manusia, karena dibutuhkan gizinya.

Lalu bagaimana jika prinsi keadilan ini diterapkan di sebuah madrasah? Dalam hal pemberian nilai kepada siswa, misalnya. Sehingga guru dapat memberi penilaian dan berpendapat apa adanya, mempertahankan idealisme bahwa mendidik bukan bertujuan ‘menghasilkan’ siswa bernilai tinggi, melainkan membawa mereka untuk mampu belajar dengan bernalar lebih baik.

Adapun permintaan untuk menaikkan nilai siswa agar memenuhi syarat minimal ketuntasan, dengan alasan jika tidak dinaikkan maka siswa berpeluang tidak naik kelas, sebaiknya tidak dipenuhi. Beberapa siswa  memperoleh nilai kurang memuaskan untuk beberapa mata pelajaran pokok, namun Sidang Kenaikan Kelas setuju menaikkan nilai sehingga ‘nasib’ siswa tergantung kepada guru.

Alangkah baiknya jika hal ini tidak terjadi dilingkungan sekolah dimana sekolah adalah salah satu lingkungan terdekat siswa (selain keluarga dan masyarakat) sebagai tempat pembentukan karakter kejujuran. Bukankah mereka (siswa) telah mendapat kesempatan perbaikan nilai, tapi tidak dengan cara menaikkan nilai. Untuk catatan, siswa dengan nilai di bawah KKM telah mendapat kesempatan ujian remedial 2-3 kali untuk mencapai ‘nilai akhir yang belum memuaskan’ tersebut. Jika hal ini terjadi, agar guru tidak diangga gagal dalam mengajar sehingga terjadi manipulasi nilai (mengatrol nilai) maka secara tidak sadar seorang guru telah menjadi contoh buruk bagi peserta didik, dalam hal kejujuran.

Lesson learned yang saya pelajari adalah, “Ini terjadi. Things happened. Suck it up.” Terlalu sulit untuk dapat mengubah sistem dan tidak banyak gunanya untuk berdiri sendirian tanpa dukungan kolega. Sedangkan dalam hal teknis guru harus data “meraba” tingkat kesulitan evaluasi yang diberikan kepada siswa dengan melakukan penilaian apa adanya dan tidak mengatrol nilai. Perbaikan pengajaran dan evaluasi juga perlu ditingkatkan agar kemampuan analisa siswa dapat lebih baik, sehingga soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dapat diatasi dengan lebih baik, dus perbaikan rata-rata nilai.

Allah menciptakan dan mengelola alam ini dengan keadilan sebagai sunnatullah, maka Allahpun mengetrapkan prinsip keadilan ini pada kehidupan manusia. Hukum sunnatullah itu bersifat pasti dan tidak bisa diganti, oleh karena itu siapapun yang berlaku adil maka dialah yang berhak menerima buahnya berupa kehidupan yang harmoni, sebaliknya siapapun yang menyimpang dari prinsip keadilan (zalim) ia akan memetik buahnya berupa ketidak harmonisan.

Sunnatullah berlaku pada alam, pada tubuh manusia, pada kehidupan individu manusia, pada kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu ada perintah untuk berlaku adil meski kepada diri sendiri, berlaku adil kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya dan ada juga keharusan menegakkan keadilan sosial.

Jujur lebih dulu daripada apapun yang lain. Membuka lebih banyak kebaikan. Membuat anak lebih sabar dalam proses, mau menunggu dan bersedia bekerja keras karena yakin nilai yang dijunjungnya tinggi dan berharga.

Harapan penulis, semoga pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai saja. Ketuntasan minimal seharusnya tidak sekadar angka minimal 75 lalu semua disesuaikan supaya murid bisa mencapai rata-rata nilai rapor minimal 75. Penulis mengaharapkan kejujuran dan proses bernilai lebih daripada angka dan nilai sikap di rapor namun tanpa roh dalam keseharian.

Bukankah lebih “enjoy” jika anak-anak belajar karena penasaran, karena ingin tahu, dan karena ingin mengerti. Jika nilai benar-benar dapat dilihat sebagai ‘bonus’ atas proses pembelajaran, kemungkinan besar anak-anak rindu pergi ke sekolah tak hanya karena teman-temannya, tapi juga guru dan aktivitas yang dilakukan di sekolah.

Semoga lebih banyak anak yang ingin menjadi guru. Guru adalah profesi bergengsi, tak kalah dari dokter dan insinyur (harapan saya). Dan semoga ketika orang menyebut tentang pahlawan tanpa tanda jasa, tak lagi dikaitkan dengan minimnya kesejahteraan guru, tapi benar-benar sekadar ‘guru tak diberikan tanda jasa seperti bintang jasa militer’.

Saya ingin guru dapat meninggalkan jejak lebih dalam pada hidup anak didiknya daripada nilai yang diberikannya. Namun kenangan akan guru dapat ikut andil dalam mengingatkan anak didiknya pada kebaikan kelak ketika mereka punya kekuasaan, menjadi pengambil keputusan, maupun menjalani profesi apa saja. Aminn.

Wajak, 19 Juni 2013 (3:43)