Dimulai dengan Bismillah

indexDimulai dengan bismillah…

Disudahi dengan Alhamdulillah…

Begitulah sehari dalam hidup kita …

Mudah-mudahan dirahmati Allah … (Raihan)

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat. Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla.bla.bla. ”

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, sudah pasti aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnyadiputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaa nirrahiim, semoga tidak ketahuan dengan penuh ketulusan, lhoo..?

Seorang Pencuri dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya di sekolah ternama” welehweleh .. Mungkin pula seorang pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya?

Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah SWT dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan. Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

Hidup itu bagaikan sedang menyetir mobil,sekali-sekali melihat kesamping kanan kiri dan belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT  dan Rasul-Nya saw?

Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya?

Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah SWT dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah SWT.

FASE-FASE KRITIS PEMBENTUKAN PERILAKU ANAK

12227166_931643000240135_7663707885081063563_n

Melongo juga pas kali pertama baca tulisan “Ayah Edi” yang ini. Ternyata anak juga memiliki fase kritis saat terbentuknya perilaku. Nah lho!! Kemana aja dulu pas kuliah materi psikologi perkembangan anak? Saya yang lupa, atau memang belum pernah dibahas ya? Ah, daripada menyesal yang tiada guna lebih baik kita baca dan pahami, berada di fase manakah anak kita ?

Kisah Ayah Edi:

Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan perilaku anaknya katanya sangat bermasalah.

Bayangkan, katanya “anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya”

Sambil menangis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya, “Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi di sekolah”.

“Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini, saya tidak tahu lagi harus bagaimana? rasanya saya sudah putus asa, setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya”

Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalahan pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Para orang tua dan guru yang berbahagia,

Kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia,
Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak tersebut.

Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa perilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.

Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.

Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.

Setelah itu fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menunjukkan perilaku-perilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.

Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalnya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke perilaku-perilaku terlarang.

Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik perilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..

Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamtlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Jika Harus Jujur, Adilkah ini?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Bahwa kebaikan itu sederhana dan berani. Sehingga, seseorang disebut baik karena dia meyakini yang baik dan hidup dalam kebaikan yang diyakininya. Mohon Anda ingat, hanya kebaikan yang membaikkan.

Dan kejujuran adalah citra terbaik. Karena sesungguhnya, hanya pribadi yang jujur – yang betul-betul bisa hidup bebas. Sebaliknya, mengharapkan keuntungan yang tidak jujur , adalah awal dari kerugian. Maka, pilihlah kejujuran. Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.

Apabila Anda mempunyai perasaan bahwa dunia tidak adil, hal ini hanya dirasakan oleh mereka yang merasa bahwa dia memiliki sebuah kualitas yang lebih baik daripada kualitas orang lain; tetapi orang lain itu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Ingatlah bahwa kita masih bisa bernegosiasi dengannya.

Membaca tulisan Mario Teguh tersebut, penulis ingin sedikit sharing  tentang nilai kejujuran dan keadilan di sebuah madrasah berdasarkan pengalaman saya. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai (a) tidak berat sebelah/tidak memihak, (b) berpihak kepada kebenaran, dan (c) sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Jadi dibalik kata adil terkandung arti memperlakukan secara sama, tidak berpihak kecuali atas dasar prinsip kebenaran. Namun, pengertian sama tidak harus persis sama, tetapi bisa beda bentuk asal substansinya sama dan yakinlah bahwasanya keadilan itu mendatangkan harmoni (tidak jomplang) karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya.

Teringat sedikit cerita ringan Bapak/ Ibu guru ketika saya SD tentang keadilan di sebuah keluarga. Pembagian tugas dalam keluarga harus didasarkan prinsip keadilan, ayah mencuci mobil sedangkan ibu memasak, adik menyapu sedangkan kakak mencuci iring. Dalam contoh tersebut telah diterapkan prinsip keadilan secara sederhana.

Untuk peneraan keadilan yang lebih luas atau umum, alam tata surya misalnya, diciptakan Allah dengan mengetrapkan prinsip keseimbangan, dengan keseimbangan itu maka alam berjalan harmoni, siang, malam, kemarau, musim hujan, musim panas, musim dingin, gerhana, yang dengan itu manusia bisa menikmati keteraturan keseimbangan itu dengan menghitung jam, bulan, tahun, cuaca, arah angin dan sebagainya. Dengan keseimbangan alam ini, manusia kemudian menyadari tentang ozon, efek rumah kaca dan sebagainya.

Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya. Semua makhluk hidup sampai yang sekecil-kecilnya disediakan rizkinya oleh sistem tersebut. Sistem keadilan dan harmoni itu membuat semua makhluk memiliki makna atas kehadirannya. Kotoran manusia yang oleh manusia dipandang najis, menjijikkan dan membahayakan kesehatannya, ternyata sangat bermakna bagi ikan lele di kolam, yang dengan menu najis itu ikan lele menjadi gemuk. Kehadiran ikan lele yang gemuk selanjutnya menjadi sangat bermakna bagi manusia, karena dibutuhkan gizinya.

Lalu bagaimana jika prinsi keadilan ini diterapkan di sebuah madrasah? Dalam hal pemberian nilai kepada siswa, misalnya. Sehingga guru dapat memberi penilaian dan berpendapat apa adanya, mempertahankan idealisme bahwa mendidik bukan bertujuan ‘menghasilkan’ siswa bernilai tinggi, melainkan membawa mereka untuk mampu belajar dengan bernalar lebih baik.

Adapun permintaan untuk menaikkan nilai siswa agar memenuhi syarat minimal ketuntasan, dengan alasan jika tidak dinaikkan maka siswa berpeluang tidak naik kelas, sebaiknya tidak dipenuhi. Beberapa siswa  memperoleh nilai kurang memuaskan untuk beberapa mata pelajaran pokok, namun Sidang Kenaikan Kelas setuju menaikkan nilai sehingga ‘nasib’ siswa tergantung kepada guru.

Alangkah baiknya jika hal ini tidak terjadi dilingkungan sekolah dimana sekolah adalah salah satu lingkungan terdekat siswa (selain keluarga dan masyarakat) sebagai tempat pembentukan karakter kejujuran. Bukankah mereka (siswa) telah mendapat kesempatan perbaikan nilai, tapi tidak dengan cara menaikkan nilai. Untuk catatan, siswa dengan nilai di bawah KKM telah mendapat kesempatan ujian remedial 2-3 kali untuk mencapai ‘nilai akhir yang belum memuaskan’ tersebut. Jika hal ini terjadi, agar guru tidak diangga gagal dalam mengajar sehingga terjadi manipulasi nilai (mengatrol nilai) maka secara tidak sadar seorang guru telah menjadi contoh buruk bagi peserta didik, dalam hal kejujuran.

Lesson learned yang saya pelajari adalah, “Ini terjadi. Things happened. Suck it up.” Terlalu sulit untuk dapat mengubah sistem dan tidak banyak gunanya untuk berdiri sendirian tanpa dukungan kolega. Sedangkan dalam hal teknis guru harus data “meraba” tingkat kesulitan evaluasi yang diberikan kepada siswa dengan melakukan penilaian apa adanya dan tidak mengatrol nilai. Perbaikan pengajaran dan evaluasi juga perlu ditingkatkan agar kemampuan analisa siswa dapat lebih baik, sehingga soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dapat diatasi dengan lebih baik, dus perbaikan rata-rata nilai.

Allah menciptakan dan mengelola alam ini dengan keadilan sebagai sunnatullah, maka Allahpun mengetrapkan prinsip keadilan ini pada kehidupan manusia. Hukum sunnatullah itu bersifat pasti dan tidak bisa diganti, oleh karena itu siapapun yang berlaku adil maka dialah yang berhak menerima buahnya berupa kehidupan yang harmoni, sebaliknya siapapun yang menyimpang dari prinsip keadilan (zalim) ia akan memetik buahnya berupa ketidak harmonisan.

Sunnatullah berlaku pada alam, pada tubuh manusia, pada kehidupan individu manusia, pada kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu ada perintah untuk berlaku adil meski kepada diri sendiri, berlaku adil kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya dan ada juga keharusan menegakkan keadilan sosial.

Jujur lebih dulu daripada apapun yang lain. Membuka lebih banyak kebaikan. Membuat anak lebih sabar dalam proses, mau menunggu dan bersedia bekerja keras karena yakin nilai yang dijunjungnya tinggi dan berharga.

Harapan penulis, semoga pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai saja. Ketuntasan minimal seharusnya tidak sekadar angka minimal 75 lalu semua disesuaikan supaya murid bisa mencapai rata-rata nilai rapor minimal 75. Penulis mengaharapkan kejujuran dan proses bernilai lebih daripada angka dan nilai sikap di rapor namun tanpa roh dalam keseharian.

Bukankah lebih “enjoy” jika anak-anak belajar karena penasaran, karena ingin tahu, dan karena ingin mengerti. Jika nilai benar-benar dapat dilihat sebagai ‘bonus’ atas proses pembelajaran, kemungkinan besar anak-anak rindu pergi ke sekolah tak hanya karena teman-temannya, tapi juga guru dan aktivitas yang dilakukan di sekolah.

Semoga lebih banyak anak yang ingin menjadi guru. Guru adalah profesi bergengsi, tak kalah dari dokter dan insinyur (harapan saya). Dan semoga ketika orang menyebut tentang pahlawan tanpa tanda jasa, tak lagi dikaitkan dengan minimnya kesejahteraan guru, tapi benar-benar sekadar ‘guru tak diberikan tanda jasa seperti bintang jasa militer’.

Saya ingin guru dapat meninggalkan jejak lebih dalam pada hidup anak didiknya daripada nilai yang diberikannya. Namun kenangan akan guru dapat ikut andil dalam mengingatkan anak didiknya pada kebaikan kelak ketika mereka punya kekuasaan, menjadi pengambil keputusan, maupun menjalani profesi apa saja. Aminn.

Wajak, 19 Juni 2013 (3:43)

Yuk, bersyukur!!

bersyukur6 (2)Pernah suatu ketika saya memberikan sesuatu kepada orang lain, membantu mereka dan kemudian mereka mengucapkan terima kasih. Ada perasaan senang atau bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Meskipun sekedar ucapan terimakasih, namun itu dapat menyempurnakan kebahagiaan dalam diri saya dalam memberikan sesuatu. Bagaimana dengan Allah SWT ya? Yang setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik nafas kita telah memberikan kita banyak hal.

Sadarkah kita, bahwa hidup ini adalah pemberian Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan? Hidup ini bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah SWT. Kita dalam kehidupan dunia ini sebagai “objek” penerima kehidupan dengan segala karunia yang diberikanNya. Posisi diri kita sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Yang Maha Kuasa terhadap hidup kita. Menyadari posisi diri kita, pikirkanlah kembali apa yang sudah diberikan Allah Tuhan Yang Maha Pemberi kepada diri kita ? Pikirkan kembali, begitu banyaknya kenikmatan dan anugerah istimewa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Renungkan kembali apa yang ada dalam diri kita saat ini, betapa banyak yang sudah kita miliki.

– Kesehatan badan kita dan keluarga kita

– Sandang pangan yang sudah kita nikmati selama ini

– Kehidupan yang tenang, damai dan bahagia selama ini

– Betapa sangat bernilainya memiliki kedua mata yang mampu melihat dunia

– Betapa berharganya memiliki kedua kaki yang berfungsi menopang beban tubuh kita

Betapa sangat istimewanya karunia kecerdasan akal dan pikiran yang sehat. Dengan kekuatan kecerdasan akal dan pikiran yang sehat ini, manusia mampu menjalani hidup dengan berbagai dinamikanya. Menjelajahi dunia dengan pengetahuan, menembus ruang angkasa dan kedalaman lautan dengan kecerdasannya. Apakah kita mengira bahwa semua hal itu begitu sepele dan sederhana, sehingga dengan mudah mengabaikannya? Apakah kita merasa semua itu sangatlah tidak berarti dibandingkan dengan sesuatu yang kita kejar dan belum kita miliki selama ini?

Coba kita pikir, apakah kita mau menukar kedua mata dengan harta berlimpah, misalnya. Ataukah kita rela menjual pendengaran dengan emas permata, menggadaikan kesehatan dengan istana yang menjulang tinggi ? Maukah kita menukar kedua tangan dan kaki dengan mobil mewah, sementara kita buntung ? Atau bersediakah kita memiliki harta segunung, tetapi akal dan pikiran tidak sehat, alias tidak waras? Begitulah sebenarnya, kita ini telah hidup berada dalam kenikmatan yang pasti tidak akan rela melepaskannya hanya demi harta, kekayaan, jabatan, kenikmatan dunia dan sesuatu yang belum kita miliki.

Maka pantaslah kalau kemudian kita senantiasa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Pantaslah kalau kemudian kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemberi. Bersyukur, berarti menghargai karunia yang diberikanNYA, mengembangkan anugerah berupa potensi diri dan menggunakannya untuk mensejahterakan diri dan orang lain. Kesadaran bersyukur akan pemberian Allah dapat membuka mata hati kita, membuka pikiran kita menjadi fokus pada memberi dan kesediaan untuk berbagi, bukannya fokus pada menunggu dan mengharap sesuatu yang belum ada.

Yuk, bersyukur!! merendahan hati, mengakui adanya karunia dari Allah Yang Maha Memiliki Kehidupan, bukan dari lainnya. Apakah posisi kita saat ini sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pegawai, direktur, manager, orang sukses, orang kaya, pemimpin,      rakyat biasa, atau siapa saja, pantas mengakhiri setiap langkah dalam kehiduapn sehari-hari dengan bersyukur. Apa yang sudah kita dapatkan dalam berbisnis, dalam bekerja, dalam berusaha, pada hakekatnya datangnya dari Allah. Mungkin saja penyebabnya dari sahabat, keluarga, saudara, teman bekerja, berdagang, berbisnis, atau lainnya. Semua itu hanyalah perantara. Maka ay bersyukur,  mengembalikan kehidupan kita kepada Sang Pemberi Kehidupan. Menyadari semuanya adalah pemberian Allah Sang Maha Pemberi. Kebiasaan ini akan mempengaruhi keikhlasan hati dan lisan untuk menyanjung Dzat Yang Maha Agung. Kemudian anggota badan kita akan menggunakan segala karunia tersebut untuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah Sang Pemberi Kehidupan. Mengakhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, tidak berarti mematikan semangat dan motivasi untuk maju dan meraih prestasi kehidupan yang lebih tinggi. Namun kesadaran seperti ini akan menjadikan kita tidak serakah serta mengabaikan anugerah dan karunia yang sudah kita miliki. Kesadaran seperti ini, menjadikan kita mampu menikmati setiap tahapan proses kehidupan menuju tujuan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Kebiasaan Bersyukur adalah manifestasi dari aplikasi ucapan “hamdallah”, sebagaimana diajarkan dalam kehidupan keagamaan kita. Dalam setiap gerak langkah kehidupan, dalam setiap apa yang kita dapatkan, dalam setiap apa yang telah kita lakukan, senantiasa akhiri dengan ucapan, “Segala Puji Dan Syukur Hanya Kepada Allah SWT”. Karena sesungguhnya semuanya adalah milik Allah Tuhan Yang Maha Memiliki dan akan kembali kepadaNYA. Jadikanlah hal ini kebiasaan Anda, maka rasakan keberhasilan yang sesungguhnya, “the ultimate meaning” atau makna tertinggi kehidupan, yakni merasakan kebahagiaan dalam rasa syukur kepada Tuhan. Semoga. Amiin.

Your Blood, Their Life

donorAkhirnya sukses juga saya donor darah hari ini (15 Mei 2013) setelah hampir 3 tahun saya menunda donor darah (hamil–punya anak–menyusui)

Ceritanya, di MA Al Hidayah Wajak ngadain donor darah gratis (he he he… mana ada donor darah bayar?? Lebay), jadi deh ikutan donor, sendirian karena gak ada seorangpun yang mau kuajak donor. Sekitar jam 9 saya tiba di TKP, maka dimulai lah tahap-tahap donor darah, antara lain :

Pertama, pendaftaran dan mengisi formulir. Pada tahap ini, kita diminta mengisi formulir dari PMI yang isinya data diri seperti nama, alamat, nomor HP, umur, berat badan dan riwayat penyakit dan kondisi kesehatan dalam beberapa minggu terakhir.

Kedua, tes golongan darah. Di sini, kita diambil sedikit darah dari jari pake alat semacam strapler. Trus darah itu di tetes di kertas yang ada lingkaran bertulis “A” dan “B”. Dari situ ketahuan bahwa golongan darah saya “A”. Kemudian sedikit darah lagi di taro di alat kecil yang terbuat dari mika transparan dan dimasukkan ke semacam alat kyanya EDC (alat transaksi debet atau kartu kredit). Belum tau juga fungsi alat ini. Taraaa… golongan darah saya B+

Ketiga, tes tekanan darah (tensi). Di tahap ini tekanan darah kita diukur. Tadi sih tekanan darah saya 100/70. Walaupun agak rendah (klo kata petugasnya), nilai ini masih memungkinkan buat donor darah.

Alhamdulillah saya hanya antri satu orang siswa MA yang saya rayu agar saya bisa duluan. Alhasil, saya maju lebih dulu dari siswa tersebut (muka ditebelin dikit ^_^). Akhirnya sampai juga giliran saya untuk diambil darahnya. Petugasnya mbak-mbak yang baik hati. Kita ngobrol dulu sebentar. Saya cerita bahwa ini pengalaman kedua donor darah. Saya  disuruh menggengam stress ball, trus lengan kiri atas di lilit sama alat alat tensi. Petugas mencari pembuluh darah saya, Katanya pembuluh darah saya tipis jadi agak susah mencarinya.

Setelah ketemu pembuluh darahnya, mulai lah jarum suntik itu menusuk (saya gak berani liat, jarumnya GD banget). Rasanya, tiba-tiba tangan saya kesemutan. Mbak petugas menyuruh saya tidak menggerakkan lengan. 10 menit kemudian mulai relax rasanya. Siswa yang tadi saya balap sudah selesai, kok saya belum? Aneh… sebelum bertanya si Mbak petugas meminta maaf harus mengganti jarumnya ke lengan sebelah kiri. Ternyata, pembuluh vena saya terlalu tipis dan pengambilan darah harus dilanjutkan di lengan lain.

Alhamdulillah donor selesai, saya keluar ruangan dan mengambil snack lagi (isinya biscuit dan ponari sweet).

Finally, dengan postingan ini saya cuma mau cerita bahwa setelah donor, saya ngerasa (secara psikologi) senang karena merasa berguna bagi orang lain walaupun ada sedikit memar di lengan sebelah kanan yang hilang setelah 4 hari.

WordPress di Android (Posting Coba-coba)

Iseng-iseng berhadiah… hehehe… saya ketik tulisan wordpress di searching playstore android, eh muncul. Asyiik, langsung aja saya unduh dan alhamdulillah terpasang.
Langsung deh saya coba posting. Memang lebih nyaman kalau nulis di keyboard PC, tapi layak kok untuk docoba.
Fasilitas sih tidak terlalu lengkap, atau mungkin saya belum terlalu memahami cara penggunannya.
Whatever, pengguna android yang lain silahkan mencoba jika punya akun di wordpress.

Review: Bedah Buku “Catatan Hati di Setiap Doaku”

catatan-hati-di-setiap-doaku

Minggu, 29 April 2013 saya menghadiri acara “Bedah Buku Catatan Hati di Setiap Doaku” yang ditulis oleh Asma Nadia di Sasana Krida Universitas Negeri Malang yang dimoderatori oleh salah satu trainer dari Nurul Hayat (lupa namanya ^_^). Acaranya sih tertulis jam 8.00 WIB, tapi molor 1 jam dan dimulai jam 9.00 WIB. Sejak berangkat dari rumah saya sudah memantapkan hati akan menjadi audience yang berada di deretan depan, tapi apa mau dikata deretan depan udah penuh dan harus rela duduk pada deretan ke tiga.

Sekilas tentang Buku Catatan Hati di Setiap Doaku, buku ini adalah edisi revisi dari Buku Catatan Hati di Setiap Sujudku yang juga di tulis oleh Asma Nadia dkk. Buku ini enak dibaca lho, kenapa? Karena penulis menggunakan bahasa yang memudahkan pembaca larut bersama alur cerita demi cerita yang disajikan dalam tiap bagiannya, bahasanya pun mudah dipahami. Pernah baca Chicken Shoup ga? Nah, gaya bahasanya mirip banget.

Apa sih yang diceritain? Bukan cerita fiksi lho pemirsa (ini yang paling menarik menurut saya), melainkan masalah sehari-hari yang mungkin pernah kita jumpai atau kita alami sendiri yang sudah pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Setelah membaca buku ini saya jadi tahu kapan doa kita akan diijabah (waktu-waktunya itu lho ^_^) berdasarkan kisah-kisah berhikmah tadi.902782_294303767369390_1774488588_o

Buku ini diawali dengan tulisan Asma Nadia yang berjudul Catatan Doa Seorang Istri. Kisah tentang seorang istri yang sangat sabar dan setia walaupun suaminya selingkuh dengan wanita lain, bahkan terjerumus narkoba. Namun, sang istri yakin bahwa Allah tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Dia yang Maha tahu apa yang kita butuhkan. Dan masih banyak lagi cerita menarik lainnya.

Pada waktu bedah buku, Asma Nadia hampir tidak pernah bercerita dan menjawab pertanyaan sambil duduk (padahal oleh panitia sudah disediakan sofa, sayaaaang kaaan?). Alhamdulillah dengan begitu saya bisa melihat beliau lebih dekat. Subhanallah, lebih cantik dan bersahaja daripada gambarnya.

Acara ini kembali membuka pengetahuan saya tentang betapa pentingnya sebuah doa dalam kehidupan seseorang. Asma Nadia menyampaikan beberapa kisah orang-orang yang bisa sukses atau menjalani kesulitan berkat doa yang mereka panjatkan. Beliau adalah seorang penulis terkenal dari Jakarta, menurut saya beliau sangat mahir merangkai kata melalui tulisan maupun verbal. Tulisan beliau sangat mudah dipahami dan serasa masuk hati ketika membacanya. Karya beliau juga telah menjadi inspirasi bagi banyak kaum wanita di Indonesia (terutama yang telah membaca tulisan Asma Nadia). Pada acara tersebut Asma Nadia memberikan ulasan-ulasan tentang karyanya, khususnya karya yang sedang menjadi tema dalam bedah buku ini. Pada saat presentasi Asma Nadia menggunakan media power point sehingga audience tidak merasa bosan, apalagi diselingi humor-humor ringan dalam memaparkan isinya.

Menurut saya, gaya Asma Nadia gaul dan bisa membaur dengan audience yang saat itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ABG sampai kakek-nenek. Meskipun buku yang sedang diulas lebih condong menceritakan “perempuan” tapi tidak sedikit remaja laki-laki hingga kakek-kakek yang hadir pada saat itu. Pada sesi terakhir yaitu tanya jawab, Asma Nadia juga menjawab semua pertanyaan dengan cukup memuaskan (menurut saya). Maaf, jika tulisan saya terlalu banyak memuji Asma Nadia, karena saya belum menemukan kekuranngan pada diri beliau. Adapun ketika diajak foto bersama agak “jutek” menolak, itupun karena beliau risih dengan beberapa fans yang menyerbu (mungkin lhooo).

Semoga bermanfaat. Amiin.