Dimulai dengan Bismillah

indexDimulai dengan bismillah…

Disudahi dengan Alhamdulillah…

Begitulah sehari dalam hidup kita …

Mudah-mudahan dirahmati Allah … (Raihan)

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat. Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla.bla.bla. “

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, sudah pasti aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnyadiputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaa nirrahiim, semoga tidak ketahuan dengan penuh ketulusan, lhoo..?

Seorang Pencuri dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya di sekolah ternama” welehweleh .. Mungkin pula seorang pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya?

Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah SWT dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan. Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

Hidup itu bagaikan sedang menyetir mobil,sekali-sekali melihat kesamping kanan kiri dan belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT  dan Rasul-Nya saw?

Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya?

Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah SWT dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah SWT.

Jika Harus Jujur, Adilkah ini?

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Bahwa kebaikan itu sederhana dan berani. Sehingga, seseorang disebut baik karena dia meyakini yang baik dan hidup dalam kebaikan yang diyakininya. Mohon Anda ingat, hanya kebaikan yang membaikkan.

Dan kejujuran adalah citra terbaik. Karena sesungguhnya, hanya pribadi yang jujur – yang betul-betul bisa hidup bebas. Sebaliknya, mengharapkan keuntungan yang tidak jujur , adalah awal dari kerugian. Maka, pilihlah kejujuran. Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.

Apabila Anda mempunyai perasaan bahwa dunia tidak adil, hal ini hanya dirasakan oleh mereka yang merasa bahwa dia memiliki sebuah kualitas yang lebih baik daripada kualitas orang lain; tetapi orang lain itu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Ingatlah bahwa kita masih bisa bernegosiasi dengannya.

Membaca tulisan Mario Teguh tersebut, penulis ingin sedikit sharing  tentang nilai kejujuran dan keadilan di sebuah madrasah berdasarkan pengalaman saya. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai (a) tidak berat sebelah/tidak memihak, (b) berpihak kepada kebenaran, dan (c) sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Jadi dibalik kata adil terkandung arti memperlakukan secara sama, tidak berpihak kecuali atas dasar prinsip kebenaran. Namun, pengertian sama tidak harus persis sama, tetapi bisa beda bentuk asal substansinya sama dan yakinlah bahwasanya keadilan itu mendatangkan harmoni (tidak jomplang) karena segala sesuatu diperlakukan atau ditempatkan sesuai dengan semestinya.

Teringat sedikit cerita ringan Bapak/ Ibu guru ketika saya SD tentang keadilan di sebuah keluarga. Pembagian tugas dalam keluarga harus didasarkan prinsip keadilan, ayah mencuci mobil sedangkan ibu memasak, adik menyapu sedangkan kakak mencuci iring. Dalam contoh tersebut telah diterapkan prinsip keadilan secara sederhana.

Untuk peneraan keadilan yang lebih luas atau umum, alam tata surya misalnya, diciptakan Allah dengan mengetrapkan prinsip keseimbangan, dengan keseimbangan itu maka alam berjalan harmoni, siang, malam, kemarau, musim hujan, musim panas, musim dingin, gerhana, yang dengan itu manusia bisa menikmati keteraturan keseimbangan itu dengan menghitung jam, bulan, tahun, cuaca, arah angin dan sebagainya. Dengan keseimbangan alam ini, manusia kemudian menyadari tentang ozon, efek rumah kaca dan sebagainya.

Demikian juga keseimbangan yang ada pada tata bumi, struktur tanah, resapan air, habitat makhluk hidup, kesemuanya diletakkan dalam sistem keadilan, yakni sistem yang menempatkan seluruh makhluk dalam satu siklus dimana kesemuanya diperlakukan secara “sama”, proporsional dan sepantasnya. Semua makhluk hidup sampai yang sekecil-kecilnya disediakan rizkinya oleh sistem tersebut. Sistem keadilan dan harmoni itu membuat semua makhluk memiliki makna atas kehadirannya. Kotoran manusia yang oleh manusia dipandang najis, menjijikkan dan membahayakan kesehatannya, ternyata sangat bermakna bagi ikan lele di kolam, yang dengan menu najis itu ikan lele menjadi gemuk. Kehadiran ikan lele yang gemuk selanjutnya menjadi sangat bermakna bagi manusia, karena dibutuhkan gizinya.

Lalu bagaimana jika prinsi keadilan ini diterapkan di sebuah madrasah? Dalam hal pemberian nilai kepada siswa, misalnya. Sehingga guru dapat memberi penilaian dan berpendapat apa adanya, mempertahankan idealisme bahwa mendidik bukan bertujuan ‘menghasilkan’ siswa bernilai tinggi, melainkan membawa mereka untuk mampu belajar dengan bernalar lebih baik.

Adapun permintaan untuk menaikkan nilai siswa agar memenuhi syarat minimal ketuntasan, dengan alasan jika tidak dinaikkan maka siswa berpeluang tidak naik kelas, sebaiknya tidak dipenuhi. Beberapa siswa  memperoleh nilai kurang memuaskan untuk beberapa mata pelajaran pokok, namun Sidang Kenaikan Kelas setuju menaikkan nilai sehingga ‘nasib’ siswa tergantung kepada guru.

Alangkah baiknya jika hal ini tidak terjadi dilingkungan sekolah dimana sekolah adalah salah satu lingkungan terdekat siswa (selain keluarga dan masyarakat) sebagai tempat pembentukan karakter kejujuran. Bukankah mereka (siswa) telah mendapat kesempatan perbaikan nilai, tapi tidak dengan cara menaikkan nilai. Untuk catatan, siswa dengan nilai di bawah KKM telah mendapat kesempatan ujian remedial 2-3 kali untuk mencapai ‘nilai akhir yang belum memuaskan’ tersebut. Jika hal ini terjadi, agar guru tidak diangga gagal dalam mengajar sehingga terjadi manipulasi nilai (mengatrol nilai) maka secara tidak sadar seorang guru telah menjadi contoh buruk bagi peserta didik, dalam hal kejujuran.

Lesson learned yang saya pelajari adalah, “Ini terjadi. Things happened. Suck it up.” Terlalu sulit untuk dapat mengubah sistem dan tidak banyak gunanya untuk berdiri sendirian tanpa dukungan kolega. Sedangkan dalam hal teknis guru harus data “meraba” tingkat kesulitan evaluasi yang diberikan kepada siswa dengan melakukan penilaian apa adanya dan tidak mengatrol nilai. Perbaikan pengajaran dan evaluasi juga perlu ditingkatkan agar kemampuan analisa siswa dapat lebih baik, sehingga soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dapat diatasi dengan lebih baik, dus perbaikan rata-rata nilai.

Allah menciptakan dan mengelola alam ini dengan keadilan sebagai sunnatullah, maka Allahpun mengetrapkan prinsip keadilan ini pada kehidupan manusia. Hukum sunnatullah itu bersifat pasti dan tidak bisa diganti, oleh karena itu siapapun yang berlaku adil maka dialah yang berhak menerima buahnya berupa kehidupan yang harmoni, sebaliknya siapapun yang menyimpang dari prinsip keadilan (zalim) ia akan memetik buahnya berupa ketidak harmonisan.

Sunnatullah berlaku pada alam, pada tubuh manusia, pada kehidupan individu manusia, pada kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu ada perintah untuk berlaku adil meski kepada diri sendiri, berlaku adil kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya dan ada juga keharusan menegakkan keadilan sosial.

Jujur lebih dulu daripada apapun yang lain. Membuka lebih banyak kebaikan. Membuat anak lebih sabar dalam proses, mau menunggu dan bersedia bekerja keras karena yakin nilai yang dijunjungnya tinggi dan berharga.

Harapan penulis, semoga pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai saja. Ketuntasan minimal seharusnya tidak sekadar angka minimal 75 lalu semua disesuaikan supaya murid bisa mencapai rata-rata nilai rapor minimal 75. Penulis mengaharapkan kejujuran dan proses bernilai lebih daripada angka dan nilai sikap di rapor namun tanpa roh dalam keseharian.

Bukankah lebih “enjoy” jika anak-anak belajar karena penasaran, karena ingin tahu, dan karena ingin mengerti. Jika nilai benar-benar dapat dilihat sebagai ‘bonus’ atas proses pembelajaran, kemungkinan besar anak-anak rindu pergi ke sekolah tak hanya karena teman-temannya, tapi juga guru dan aktivitas yang dilakukan di sekolah.

Semoga lebih banyak anak yang ingin menjadi guru. Guru adalah profesi bergengsi, tak kalah dari dokter dan insinyur (harapan saya). Dan semoga ketika orang menyebut tentang pahlawan tanpa tanda jasa, tak lagi dikaitkan dengan minimnya kesejahteraan guru, tapi benar-benar sekadar ‘guru tak diberikan tanda jasa seperti bintang jasa militer’.

Saya ingin guru dapat meninggalkan jejak lebih dalam pada hidup anak didiknya daripada nilai yang diberikannya. Namun kenangan akan guru dapat ikut andil dalam mengingatkan anak didiknya pada kebaikan kelak ketika mereka punya kekuasaan, menjadi pengambil keputusan, maupun menjalani profesi apa saja. Aminn.

Wajak, 19 Juni 2013 (3:43)

Yuk, bersyukur!!

bersyukur6 (2)Pernah suatu ketika saya memberikan sesuatu kepada orang lain, membantu mereka dan kemudian mereka mengucapkan terima kasih. Ada perasaan senang atau bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Meskipun sekedar ucapan terimakasih, namun itu dapat menyempurnakan kebahagiaan dalam diri saya dalam memberikan sesuatu. Bagaimana dengan Allah SWT ya? Yang setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik nafas kita telah memberikan kita banyak hal.

Sadarkah kita, bahwa hidup ini adalah pemberian Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan? Hidup ini bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah SWT. Kita dalam kehidupan dunia ini sebagai “objek” penerima kehidupan dengan segala karunia yang diberikanNya. Posisi diri kita sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Yang Maha Kuasa terhadap hidup kita. Menyadari posisi diri kita, pikirkanlah kembali apa yang sudah diberikan Allah Tuhan Yang Maha Pemberi kepada diri kita ? Pikirkan kembali, begitu banyaknya kenikmatan dan anugerah istimewa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Renungkan kembali apa yang ada dalam diri kita saat ini, betapa banyak yang sudah kita miliki.

- Kesehatan badan kita dan keluarga kita

- Sandang pangan yang sudah kita nikmati selama ini

- Kehidupan yang tenang, damai dan bahagia selama ini

- Betapa sangat bernilainya memiliki kedua mata yang mampu melihat dunia

- Betapa berharganya memiliki kedua kaki yang berfungsi menopang beban tubuh kita

Betapa sangat istimewanya karunia kecerdasan akal dan pikiran yang sehat. Dengan kekuatan kecerdasan akal dan pikiran yang sehat ini, manusia mampu menjalani hidup dengan berbagai dinamikanya. Menjelajahi dunia dengan pengetahuan, menembus ruang angkasa dan kedalaman lautan dengan kecerdasannya. Apakah kita mengira bahwa semua hal itu begitu sepele dan sederhana, sehingga dengan mudah mengabaikannya? Apakah kita merasa semua itu sangatlah tidak berarti dibandingkan dengan sesuatu yang kita kejar dan belum kita miliki selama ini?

Coba kita pikir, apakah kita mau menukar kedua mata dengan harta berlimpah, misalnya. Ataukah kita rela menjual pendengaran dengan emas permata, menggadaikan kesehatan dengan istana yang menjulang tinggi ? Maukah kita menukar kedua tangan dan kaki dengan mobil mewah, sementara kita buntung ? Atau bersediakah kita memiliki harta segunung, tetapi akal dan pikiran tidak sehat, alias tidak waras? Begitulah sebenarnya, kita ini telah hidup berada dalam kenikmatan yang pasti tidak akan rela melepaskannya hanya demi harta, kekayaan, jabatan, kenikmatan dunia dan sesuatu yang belum kita miliki.

Maka pantaslah kalau kemudian kita senantiasa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Pantaslah kalau kemudian kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemberi. Bersyukur, berarti menghargai karunia yang diberikanNYA, mengembangkan anugerah berupa potensi diri dan menggunakannya untuk mensejahterakan diri dan orang lain. Kesadaran bersyukur akan pemberian Allah dapat membuka mata hati kita, membuka pikiran kita menjadi fokus pada memberi dan kesediaan untuk berbagi, bukannya fokus pada menunggu dan mengharap sesuatu yang belum ada.

Yuk, bersyukur!! merendahan hati, mengakui adanya karunia dari Allah Yang Maha Memiliki Kehidupan, bukan dari lainnya. Apakah posisi kita saat ini sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai pegawai, direktur, manager, orang sukses, orang kaya, pemimpin,      rakyat biasa, atau siapa saja, pantas mengakhiri setiap langkah dalam kehiduapn sehari-hari dengan bersyukur. Apa yang sudah kita dapatkan dalam berbisnis, dalam bekerja, dalam berusaha, pada hakekatnya datangnya dari Allah. Mungkin saja penyebabnya dari sahabat, keluarga, saudara, teman bekerja, berdagang, berbisnis, atau lainnya. Semua itu hanyalah perantara. Maka ay bersyukur,  mengembalikan kehidupan kita kepada Sang Pemberi Kehidupan. Menyadari semuanya adalah pemberian Allah Sang Maha Pemberi. Kebiasaan ini akan mempengaruhi keikhlasan hati dan lisan untuk menyanjung Dzat Yang Maha Agung. Kemudian anggota badan kita akan menggunakan segala karunia tersebut untuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah Sang Pemberi Kehidupan. Mengakhiri Dengan Kebiasaan Bersyukur, tidak berarti mematikan semangat dan motivasi untuk maju dan meraih prestasi kehidupan yang lebih tinggi. Namun kesadaran seperti ini akan menjadikan kita tidak serakah serta mengabaikan anugerah dan karunia yang sudah kita miliki. Kesadaran seperti ini, menjadikan kita mampu menikmati setiap tahapan proses kehidupan menuju tujuan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Kebiasaan Bersyukur adalah manifestasi dari aplikasi ucapan “hamdallah”, sebagaimana diajarkan dalam kehidupan keagamaan kita. Dalam setiap gerak langkah kehidupan, dalam setiap apa yang kita dapatkan, dalam setiap apa yang telah kita lakukan, senantiasa akhiri dengan ucapan, “Segala Puji Dan Syukur Hanya Kepada Allah SWT”. Karena sesungguhnya semuanya adalah milik Allah Tuhan Yang Maha Memiliki dan akan kembali kepadaNYA. Jadikanlah hal ini kebiasaan Anda, maka rasakan keberhasilan yang sesungguhnya, “the ultimate meaning” atau makna tertinggi kehidupan, yakni merasakan kebahagiaan dalam rasa syukur kepada Tuhan. Semoga. Amiin.

Your Blood, Their Life

donorAkhirnya sukses juga saya donor darah hari ini (15 Mei 2013) setelah hampir 3 tahun saya menunda donor darah (hamil–punya anak–menyusui)

Ceritanya, di MA Al Hidayah Wajak ngadain donor darah gratis (he he he… mana ada donor darah bayar?? Lebay), jadi deh ikutan donor, sendirian karena gak ada seorangpun yang mau kuajak donor. Sekitar jam 9 saya tiba di TKP, maka dimulai lah tahap-tahap donor darah, antara lain :

Pertama, pendaftaran dan mengisi formulir. Pada tahap ini, kita diminta mengisi formulir dari PMI yang isinya data diri seperti nama, alamat, nomor HP, umur, berat badan dan riwayat penyakit dan kondisi kesehatan dalam beberapa minggu terakhir.

Kedua, tes golongan darah. Di sini, kita diambil sedikit darah dari jari pake alat semacam strapler. Trus darah itu di tetes di kertas yang ada lingkaran bertulis “A” dan “B”. Dari situ ketahuan bahwa golongan darah saya “A”. Kemudian sedikit darah lagi di taro di alat kecil yang terbuat dari mika transparan dan dimasukkan ke semacam alat kyanya EDC (alat transaksi debet atau kartu kredit). Belum tau juga fungsi alat ini. Taraaa… golongan darah saya B+

Ketiga, tes tekanan darah (tensi). Di tahap ini tekanan darah kita diukur. Tadi sih tekanan darah saya 100/70. Walaupun agak rendah (klo kata petugasnya), nilai ini masih memungkinkan buat donor darah.

Alhamdulillah saya hanya antri satu orang siswa MA yang saya rayu agar saya bisa duluan. Alhasil, saya maju lebih dulu dari siswa tersebut (muka ditebelin dikit ^_^). Akhirnya sampai juga giliran saya untuk diambil darahnya. Petugasnya mbak-mbak yang baik hati. Kita ngobrol dulu sebentar. Saya cerita bahwa ini pengalaman kedua donor darah. Saya  disuruh menggengam stress ball, trus lengan kiri atas di lilit sama alat alat tensi. Petugas mencari pembuluh darah saya, Katanya pembuluh darah saya tipis jadi agak susah mencarinya.

Setelah ketemu pembuluh darahnya, mulai lah jarum suntik itu menusuk (saya gak berani liat, jarumnya GD banget). Rasanya, tiba-tiba tangan saya kesemutan. Mbak petugas menyuruh saya tidak menggerakkan lengan. 10 menit kemudian mulai relax rasanya. Siswa yang tadi saya balap sudah selesai, kok saya belum? Aneh… sebelum bertanya si Mbak petugas meminta maaf harus mengganti jarumnya ke lengan sebelah kiri. Ternyata, pembuluh vena saya terlalu tipis dan pengambilan darah harus dilanjutkan di lengan lain.

Alhamdulillah donor selesai, saya keluar ruangan dan mengambil snack lagi (isinya biscuit dan ponari sweet).

Finally, dengan postingan ini saya cuma mau cerita bahwa setelah donor, saya ngerasa (secara psikologi) senang karena merasa berguna bagi orang lain walaupun ada sedikit memar di lengan sebelah kanan yang hilang setelah 4 hari.

WordPress di Android (Posting Coba-coba)

Iseng-iseng berhadiah… hehehe… saya ketik tulisan wordpress di searching playstore android, eh muncul. Asyiik, langsung aja saya unduh dan alhamdulillah terpasang.
Langsung deh saya coba posting. Memang lebih nyaman kalau nulis di keyboard PC, tapi layak kok untuk docoba.
Fasilitas sih tidak terlalu lengkap, atau mungkin saya belum terlalu memahami cara penggunannya.
Whatever, pengguna android yang lain silahkan mencoba jika punya akun di wordpress.

Review: Bedah Buku “Catatan Hati di Setiap Doaku”

catatan-hati-di-setiap-doaku

Minggu, 29 April 2013 saya menghadiri acara “Bedah Buku Catatan Hati di Setiap Doaku” yang ditulis oleh Asma Nadia di Sasana Krida Universitas Negeri Malang yang dimoderatori oleh salah satu trainer dari Nurul Hayat (lupa namanya ^_^). Acaranya sih tertulis jam 8.00 WIB, tapi molor 1 jam dan dimulai jam 9.00 WIB. Sejak berangkat dari rumah saya sudah memantapkan hati akan menjadi audience yang berada di deretan depan, tapi apa mau dikata deretan depan udah penuh dan harus rela duduk pada deretan ke tiga.

Sekilas tentang Buku Catatan Hati di Setiap Doaku, buku ini adalah edisi revisi dari Buku Catatan Hati di Setiap Sujudku yang juga di tulis oleh Asma Nadia dkk. Buku ini enak dibaca lho, kenapa? Karena penulis menggunakan bahasa yang memudahkan pembaca larut bersama alur cerita demi cerita yang disajikan dalam tiap bagiannya, bahasanya pun mudah dipahami. Pernah baca Chicken Shoup ga? Nah, gaya bahasanya mirip banget.

Apa sih yang diceritain? Bukan cerita fiksi lho pemirsa (ini yang paling menarik menurut saya), melainkan masalah sehari-hari yang mungkin pernah kita jumpai atau kita alami sendiri yang sudah pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Setelah membaca buku ini saya jadi tahu kapan doa kita akan diijabah (waktu-waktunya itu lho ^_^) berdasarkan kisah-kisah berhikmah tadi.902782_294303767369390_1774488588_o

Buku ini diawali dengan tulisan Asma Nadia yang berjudul Catatan Doa Seorang Istri. Kisah tentang seorang istri yang sangat sabar dan setia walaupun suaminya selingkuh dengan wanita lain, bahkan terjerumus narkoba. Namun, sang istri yakin bahwa Allah tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Dia yang Maha tahu apa yang kita butuhkan. Dan masih banyak lagi cerita menarik lainnya.

Pada waktu bedah buku, Asma Nadia hampir tidak pernah bercerita dan menjawab pertanyaan sambil duduk (padahal oleh panitia sudah disediakan sofa, sayaaaang kaaan?). Alhamdulillah dengan begitu saya bisa melihat beliau lebih dekat. Subhanallah, lebih cantik dan bersahaja daripada gambarnya.

Acara ini kembali membuka pengetahuan saya tentang betapa pentingnya sebuah doa dalam kehidupan seseorang. Asma Nadia menyampaikan beberapa kisah orang-orang yang bisa sukses atau menjalani kesulitan berkat doa yang mereka panjatkan. Beliau adalah seorang penulis terkenal dari Jakarta, menurut saya beliau sangat mahir merangkai kata melalui tulisan maupun verbal. Tulisan beliau sangat mudah dipahami dan serasa masuk hati ketika membacanya. Karya beliau juga telah menjadi inspirasi bagi banyak kaum wanita di Indonesia (terutama yang telah membaca tulisan Asma Nadia). Pada acara tersebut Asma Nadia memberikan ulasan-ulasan tentang karyanya, khususnya karya yang sedang menjadi tema dalam bedah buku ini. Pada saat presentasi Asma Nadia menggunakan media power point sehingga audience tidak merasa bosan, apalagi diselingi humor-humor ringan dalam memaparkan isinya.

Menurut saya, gaya Asma Nadia gaul dan bisa membaur dengan audience yang saat itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ABG sampai kakek-nenek. Meskipun buku yang sedang diulas lebih condong menceritakan “perempuan” tapi tidak sedikit remaja laki-laki hingga kakek-kakek yang hadir pada saat itu. Pada sesi terakhir yaitu tanya jawab, Asma Nadia juga menjawab semua pertanyaan dengan cukup memuaskan (menurut saya). Maaf, jika tulisan saya terlalu banyak memuji Asma Nadia, karena saya belum menemukan kekuranngan pada diri beliau. Adapun ketika diajak foto bersama agak “jutek” menolak, itupun karena beliau risih dengan beberapa fans yang menyerbu (mungkin lhooo).

Semoga bermanfaat. Amiin.

Taare Zameen Par: Film “Cerdas” untuk Guru yang “Cerdas”

Guru adalah pendidik yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya. Namun, guru yang saati ini saya perhatikan lebih mengarah kepada sebuah pekerjaan atau kewajiban dimana ketika seseorang telah menunaikan kewajiban “mengajar” maka gugurlah kewajiban tersebut. Bagaimana tidak? Guru hanya masuk ke dalam kelas, menyampaikan materi, salam, trus pergi. Hal ini saya amati pada beberapa orang guru lho!! Jadi tidak bisa disamaratakan. Ada juga sih guru yang benar-benar menjadi seorang pendidik dan bertanggung jawab kepada muridnya.

Pada saat saya masih mengajar di salah satu SD Swasta, ada beberapa siswa yang berkelakuan luar biasa. Dia tidak bisa menulis dengan rapi, tidak bisa membaca dengan lancar, bahkan sampai kelas 4 SD. Tapi dia bisa menghitung dan pandai latihan karate. Seperti film berikut….

Film ini dimulai  menceritakan tokoh utamanya melalui seorang anak yang bernama Ishaan Awasthi. Ia seorang anak berumur sekitar 8 atau 9 tahun dan sedang menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Seperti anak-anak seusianya, Ishaan sangat suka bermain. Namun tidak seperti anak-anak seusianya yang lain, Ishaan tergolong anak yang “luar biasa” dalam hal belajar, ia dianggap bodoh dan nakal. Tidak heran karena ia tidak pernah mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), nilai ulangannya selalu di bawah rata-rata, ia juga kesulitan untuk membaca. Namun ia sangat pandai dan suka melukis. Hal itu tidak terlalu diperhatikan oleh teman-temannya dan juga guru-gurunya. Hanya Ibu dan kakaknya yang bernama Yohan yang memperhatikannya. Ishaan sangat berbeda dengan kakaknya, Yohan Awasthi. Jika Ishaan dinilai nakal dan bodoh kakaknya kebalikannya. Yohan sangat cerdas di semua mata pelajaran termasuk olahraga yaitu tenis.

Sebenarnya ibunya sering membantunya belajar. Dengan kesabaraannya ia membantu Ishaan mengulang pelajarannya, namun pada taare-zameen-parakhirnya ibunya lelah karena lagi-lagi Ishaan salah dalam menulis. Ia selalu saja salah dalam menulis kata-kata. Misalnya menulis kata “table” dengan dengan “tabel” dan masih banyak kata-kata lain yang susah dimengerti. Sayangnya ayahnya kurang memperhatikan, ia hanya sibuk bekerja dan sering memarahi Ishaan yang dianggapnya nakal. Belum lagi guru-guru di sekolahnya, hampir semuanya selalu memarahi dan menghukumnya.

Hal inilah yang membuat ia membolos. Awalnya ia berangkat ke sekolah dan mengikuti pelajaraan. Namun pada pelajaran pertama ia memperoleh hukuman sehingga harus berada di luar. Ia dihukum karena tidak mampu membaca apa yang diminta guru. Selain itu ia juga kesulitan untuk mencerna perintah dari guru. Misalnya instruksi untuk membuka halaman 38, bab 4 paragraf 3. Sampai ia harus dibantu oleh temannya.

Yang membuatnya memutuskan untuk membolos adalah ia belum mengerjakan PR selain itu ia juga tidak membawa kertas nilai ujian yang seharusnya ditandatangani orang tuanya tetapi kertas tersebut ia gunakan untuk bermain-main. Akhirnya ia membolos dengan berjalan-jalan keluar dari sekolah. Ia pergi ke pasar, ke tempat-tempat umum lainnya. yang mana hal itu menginspirasinya dalam melukis. Ia menikmati jalan-jalan yang ia lakukan, karena takut ketahuan orang tuanya, ia memaksa kakaknya untuk membuatkan surat ijin. Awalnya kakaknya tidak bersedia tetapi akhirnya bersedia.

Pasa saat mengerjakan ulangan Matematika, seperti biasa ia kesulitan dalam mengerjakannya. Dari banyak soal yang diberikan ia hanya mengerjakan satu soal saja. Itu pun salah. Ketika ia mengerjakan soal tersebut ia jusru membayangkannya dalam bentuk animasi sebuah game, sehingga ketika ia mengerjakan soal perkalian 3 x 9 = … Ia menjawabnya menjadi 3 x 9 = 3.

Sayangnya, ia kurang teliti. Surat ijin palsu itu ditemukan ayahnya. Terang saja ia dimarahi habis-habisan, selain itu ayah ibunya juga pergi ke sekolahnya. Di sekolah, semua guru dan juga Kepala Sekolah semakin memojokkan orang tuanya. Mereka berpeendapat bahwa Ishaan mungkin perlu disekolahkan di sekolah lain. Dan jika ia tidak berubah pada ujian selanjutnya ia dipastikan tidak lulus.

Hal tersebut membuat ayahnya marah, ia tidak terima bahwa anaknya dianggap tidak normal. Ia kemudian memindahkan Ishaan ke asrama. Dengan memindahkan Ishaan ke asrama ia berharap Ishaan tidak malas belajar, selama ini ia menganggap bahwa Ishaan itu nakal dan malas belajar. Sebenarnya ibunya tidak terlalu menyetujuinya namun ia tidak terlalu bisa berbuat banyak. Ishaan pun merasa terpukul, ia merasa dibuang dengan dipindahkan ke asrama.

Di asrama pun tidak ada peruubahan yang berarti. Justru keadaan Ishaan yang semakin terpuruk. Selain ia tidak mau sekolah di asrama, guru-guru di asrama tersebut lebih galak dibandingkan sekolah sebelumnya. Ishaan masih sering menerima hukuman keluar kelas, nilainya masih di bawah rata-rata. Bahkan ia juga mengalami hukuman dipukul menggunakan penggaris oleh guru mata pelajaan Seni yang bernama Holkar.

Ishaan sebenarnya telah berusaha, tetapi semakin ia berusaha semakin bingung. Ia merasa tulisan yang ia baca menari-nari sehingga ia tidak bisa membaca. Tekanan dari guru dan ejekan dari teman-temannya semakin menekannya. Bahkan membuatnya tidak mau menggambar lagi.

Kemudian datanglah seorang guru seni yang baru, menggantikan guru seni sebelumnya yaitu Holkar yang pindah mengajar ke sekolah lainnya. Guru pengganti tersebut bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Berbeda dengan guru sebelumnya yang terkenal galak dan suka memukul. Nikumbh seorang guru yang menyenangkan. Ia mengajak murid-muridnya belajar sambil bernyanyi, belajar ke luar kelas dan menggambar apapun yang ingin digambar murid-muridnya.

Nikumbh lah yang kemudian menemukan ada sesuatu yang berbeda dengan Ishaan. Ia mencari tahu melalui teman sekelas Ishaan yang paling dekat yaitu Rajan Damodaran. Melalui Rajan itulah Nikumbh mengetahui bahwa Ishaan baru masuk ke asrama tersebut di tengah semester.. Nikumbh kemudian berusaha pergi ke rumah orang tua Ishaan.

Nikumbh pulalah yang kemudian mampu memberikan penjelasan kepada orang tua Ishaan, bahwa anak mereka mengalami dyslexia. Dimana hal tersebut membuat Ishaan mengalami kesulitan membaca dan menulis. Selain itu dyslexia tersebut juga menjawab mengapa selama ini Ishaan selalu kesulitan mengikuti instruksi atau petunjuk dari guru, orang tua maupun teman-temannya. Kesulitan motorik akibat dyslexia tersebut juga membuat Ishaan kesulitan mengancingkan bajunya dengan benar, melempar bola dengan tepat dan selalu lambat dalam mengerjakan sesuatu.

Setelah menemui orang tua Ishaan, Nikumbh kemudian memohon kepada Kepala Sekolah (asrama) agar Ishan diberikan kemudahan dan tidak dikeluarkan. Dimana ia nantinya yang akan membantu Ishaan agar dapat membaca dan juga menulis.

Dimulailah upaya Nikumbh untuk membantu Ishaan belajar membaca dan menulis. Tetapi sebelumnya ia menjelaskan di depan kelas mengenai kesulitan membaca dan menulis yang dialami tokoh-tokoh dunia. Seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Pablo Picasso, Walt Disney bahkan Abhishek Bachan. Di tempat terpisah ia juga menjelaskan kepada Ishaan bahwa dulunya ia juga mengalami keslitan membaca dan juga menulis. Hal tersebut sedikit menambah kepercayaan diri Ishhaan.

Lalu dimulailah upaya Nikumbh membantu Ishaan. Berbeda dengan guru lain, ia membantu Ishaan belajar sambil bermain. Dengan bermain pasir, melukis, menggunakan lilin yang bisa dibentuk, diselingi game komputer, melalui rekaman. Perlahan namun pasti upaya Nikumbh berhasil. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan diri Ishaan dan memperlihatkan kelebihan Ishaan dalam melukis, Nikumbh kemudian mengadakan lomba melukis bagi guru dan murid di asrama tersebut.

Melihat lukisan Nikumb, Ishaan menangis terharu 110804083243lzk2
Ishaan keluar sebagai pemenang. Hasil lukisannya dan juga lukisan Nikumbh dipakai sebagai sampul buku tahunan sekolah tersebut. Selain iu di akhir sekolah, nilai-nilai Ishaan pun tidak lagi di bawah rata-rata. Ia sudah mampu mengimbangi kemampuan teman-temannya.

painting01

Berdasarkan cerita tersebut, guru yang cerdas akan bertindak seperti Nikumb yang merasa bertanggung jawab terhadap anak didiknya,. Bukannya lari dari tanggung jawab dengan menyuruh peserta didik keluar ketika tidak mengerjakan tugas :)) Semoga kita bisa menjadi guru yang cerdas. Amiin…